Rumah Artikel di dirikan oleh Mas Aza praktisi Bisnis online yang merupakan YouTuber, Vtuber, Blogger, Programmer, Penulis Membacalan agar Anda menjadi orang sukses

Media Seputar Karya Fiksi dan Non Fiksi

Wednesday, July 15, 2020

Halalkan Sebelum Sarjana



"Panggil aku Ira," jawabnya perempuan itu, ketika aku menanyakan namanya saat mencari buku di perpustakaan. Ia sibuk mencari buku yang tidak kunjung ditemukan di rak. Akhirnya aku mencoba mencarikannya. Tak lama kemudian bukunya berhasil ditemukan. Ini buku yang kamu cari mulai tadi?
Iya, mas terima kasih.
Sama-sama."
"Kamu juga mahasiswa ya Mas," tanya Ira.
"Iya, sama dengan kamu satu perguruan."
"Sudah semester berapa?" 
"Kalau kamu? Balik tanya aku terlebih dahulu.
"Sudah semester 4 mas, kamu sendiri?
"Aku masih semester 4."
"Yang benar saja mas."
"Buat apa aku berbohong."
"Wah.... Iya aku percaya," katanya tersenyum.
Aku pun memulai membaca buku dan Ira juga mulai membuka lembaran demi lembaran halaman dan membacanya. Setengah jam kemudian letih sudah menerobos batinku. Ira masih fokus membaca dan mencari judul yang sesuai dengan tugas mata kuliahnya. Aku pun kembali membaca kalimat berikutnya tanpa melakukan interaksi kepada Ira yang sedang fokus membaca.
"Mas bisa bantuin aku nggak." Tiba-tiba Ira kembali bertanya.
"Bantuin apa?"
"Carikan referensi sesuai tugas makalahku. Aku sudah tidak tahu lagi mau carinya mulai barusan tidak ketemu-temu." Ira seraya menyodorkan bukunya kepadaku. Aku pun mengambilnya, dan Ira menatapku santai. 
Dari judul tugas makalahnya memang menyulitkan untuk segera menemukan referensinya. Namun, bagiku juga bukan hal mudah cuma hal ini sangat penting untuk membantu orang yang sedang membutuhkan. Kesulitan juga sering terjadi bagiku, walaupun selalu demikian bukan berarti harus dibiarkan begitu saja sehingga tidak bisa menyelesaikan tugas.
Tidak lama kemudian referensi yang dicari ditemukan, kemudian aku memberikan kembali bukunya pada Ira.
"Ini referensinya sudah ditemukan, langsung ditulis atau difoto dan langsung di ketik," saranku pada Ira.
"Terimakasih mas, hebat juga kamu ya," senang nya seraya mengambil bukunya. Ira langsung memfoto referensi yang sudah ditentukan.
"Kamu tidak punya laptop iya?" Tanya aku pada Ira.
"Ada mas cuman lupa tidak dibawa," lirihnya.
"Oh, iya difoto saja kalau tidak mau langsung diketik."
"Iya, sudah mas. Baru saja difoto."
"Kalau boleh tahu nama mas siapa?"
"Panggil saja Iwan."
"Iya, mas Iwan."
"Jangan panggil mas panggil namanya saja."
"Emmmm gimana ya..... Mau panggil kakak saja iya. Biar tidak terlalu gimana gitu."
"Oke lah gitu tidak apa-apa."
"Oh iya kak, kalau boleh tahu kakak memang suka baca buku."
Emm.... Bisa dikatakan iya, karena dengan membaca buku akan memudahkan segalanya terlebih pada tugas-tugas kampus."
"Oh begitu ya kak. Kira-kira kakak membaca buku apa saja dalam sewaktu-waktu."
"Kalau tidak tugas kuliah, baca buku fiksi seperti cerpen, novel dan lainnya. Kalau lagi ngebut dengan tugas kampus aktif baca buku mata kuliah."
"Mantap sekali itu kak. Jujur saja salam aku kuliah jarang baca buku, cuman ketika ada tugas kuliah baru membuka buku seperti sekarang. Dari apa yang kakak sampaikan ada inspirasi yang masuk dalam diriku sehingga jadi malu sama kakak dan diriku sendiri."
"Kalau begitu kamu mulailah dari sekarang untuk aktif membaca. Membacalah se bisa kamu yang penting aktif membaca." 
"Siap kak, kalau bisa boleh aku minta no WhatsAppnya, siapa tahu nanti bisa mengintip story' kakak."
Silahkan catat, tapi jangan disebarkan soalnya nomor ini hanya orang tertentu yang punya."
"Siap kak," jawabannya seraya mencatat nomor yang telah aku tulis dilembar kertas kecil putih.
"Terimakasih iya kak, mungkin lain kali kita bertemu kembali disini atau di kampus. Sekarang aku mau pamit karena harus pulang ke rumah secepat mungkin, masih ada acara penting."
"Iya sama-sama, hati-hati di jalan," ucapku dan Ira langsung meninggalkan untuk mengembalikan buku yang diambil dan keluar dari ruang perpustakaan.
Ira sudah keluar dengan mengendarai sepeda motornya, namun ada sesuatu yang tertinggal di tempat duduknya berupa KTM. Aku pun langsung mengambilnya untuk dikembalikan pada suatu saat nanti. Tak lama kemudian, ada pesan masuk di WhatsApp dengan nomor baru nomor WhatsApp nya Ira. 
"Assalamualaikum, maaf kak. Kakak masih ada di perpus ya. KTM ku ketinggalan di sana." Isi pesannya.
"Waalaikum salam, iya KTM nya sudah aku simpan ke dalam dompet, kamu tidak perlu khawatir, ambil besok saja di kampus." Balasku, pesan WhatsAppnya langsung terbaca.
"Siap kak, terima kasih sampai jumpa besok di kampus."
"Oke siap." Aku pun kembali membaca buku novel karya salah satu penulis inspiratif. Kata-katanya mampu membangun jiwa pembacanya. Paling kerrennya lagi seakan-akan pembacanya ada dalam ceritanya. 
Hari ini entah hari apa, kok bisa aku bisa kenal dengan perempuan yang satu perguruan. Sejak aku masuk kampus tidak pernah ada satupun perempuan yang ku kenal kecuali teman kelas itupun hanya ketika mau kerja kelompok, selain itu tidak ada. Semoga saja perkenalan hari ini terakhir kalinya dan tidak ada yang kedua kalinya. Karena bagiku jika sampai kenal dengan banyak perempuan akan mempengaruhi terhadap konsentrasi belajar. Namanya juga perempuan, perempuan tercipta untuk memberikan ketenangan bagi laki-laki dengan melalui jalan yang halal. Perempuan tercipta dengan membawa keindahan sehingga siapapun yang melihatnya akan tertarik, apalagi seperti Ira yang mempunyai kulit putih dan wajah yang cukup cantik yang dibalut dengan kerudungnya serta baju jubahnya dengan warna yang mengkilat.
*** ***
"Pertemuan yang tidak pernah diduga sebelumnya
dan pertemuan pertama kalinya dengan lelaki manapun, entah aku kemarin malam bermimpi apa sehingga aku bisa bertemu dengan lelaki yang satu perguruan. Sejak masuk kampus aku selalu menjauh dari beberapa lelaki yang mencoba mendekatinya. 
Bukan karena aku memilih teman lelaki yang sesuai dengan selera ku. Cuma aku tidak mau kesempatan kuliah ini dijadikan kesempatan untuk akrab dengan lelaki yang mencoba mendekati. Mungkin karena dia telah berbuat baik kepadaku dan memang dia orangnya sangat baik dan juga pembaca buku aktif buktinya ketika aku sulit menemukan referensi tugas makalah ternyata dia mampu menemukannya dengan mudah. Semoga saja lelaki itu pertama kali yang kukenal dan setelah itu tidak ada lagi. Semoga saja bukan awal kalinya dekat dengan lelaki manapun cukup lelaki itu yang aku kenal."
Story' pagi akun WhatsApp Iradatus Sakinah nama yang tertera di akhir story' nya. Apa yang aku rasakan ternyata sama. Sama-sama pertama kali dan terkahir kalinya. Ternyata perempuan itu orang yang kucari sejak dulu, namun apakah aku harus mengenalnya lebih lanjut dengan cara berpacaran seperti layaknya teman-teman kampus. Cuma kalau mendapatkan jodoh dengan cara pacaran tercatat kurang baik bahkan hal itu tidak diperbolehkan.
Pagi-pagi ini aku lagi disibukkan dengan persiapan berangkat ke kampus. Mulai dari makalah dan buku-buku yang belum dimasukkan ke dalam ransel. Belum lagi buka WhatsApp biasanya ada informasi kalau ada dosen yang tidak bisa masuk sehingga tidak perlu terburu-buru ke kampus. Setelah grup kelas dibuka ternyata tidak ada satupun informasi. Aku pun langsung berangkat mengendarai sepeda motor melaju dengan kecepatan seperti biasanya. Satu jam kemudian aku sudah sampai ke kampus. Di tempat parkir sepeda motor sudah ada sosok perempuan yang sedang memarkir sepeda motornya, lalu ia menolehnya. Balutan krudungnya memberikan pesona membuatku terbiasa dalam pandangan seakan-akan mataku tidak bisa mengedipkan. Ia sepertinya ragu antara mengenal duluan atau tidak. Aku hanya memberikan senyuman saja, ketika aku sudah sadar kalau ia orang yang baru kenal. akhirnya aku mengalah untuk mengenalnya terlebih dahulu. 
"Selamat pagi."
"Selamat pagi juga kak."
"Ini KTM nya," kataku seraya menyodorkan KTMnya.
"Terimakasih kak," balasannya.
"Kakak langsung masuk iya?"
"Iya dik, langsung masuk."
"Udah duluan ya.... Takut telat."
"Siap kak, hati-hati di jalan," ekspresi perhatiannya.
Aku pun hanya mengangguk kepala dan tersenyum Ira pun langsung membalasnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju ke kelas yang sudah ada dosennya. Sesampai di kelas langsung sowan kepada dosen dan duduk ke kursi paling belakang. Suasana kelas mulai ramai dengan dimulainya penyampaian materi dari kelompok yang bertugas. Beraneka ragam penyampaian ada yang hanya membaca makalahnya tanpa menjelaskan hasil analisis nya. Ada yang langsung menjelaskan nya tanpa menggunakan teks makalah. Dosen pengampu hanya memantau perjalanan penyampaian materi makalah dari belakang. Setelah semua anggota kelompok selesai menyampaikan materinya moderator langsung memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya kepada para pemateri. Satu per satu pertanyaan disampaikan dengan gaya bahasa dari pendiriannya. Aku sudah tidak diperkenankan untuk bertanya, biasanya hanya diberikan kesempatan untuk menambah jawaban atau menjawabnya. Teman mahasiswa kelas sering kali masih membantah terhadap jawaban pemateri. Dari ketidak puasannya seringkali dilempar kepada para audiens. Aku pun terkadang membantu menjawabnya, bahkan seringkali kali dosen memberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang kurang memuaskan penanya. Karena dosen sangat percaya kalau aku bisa untuk menjawabnya sehingga bisa membantu menjawabnya. Seratus menit sudah dilalui satu mata kuliah sudah selesai dan semua mahasiswa kelas D semester 4 diperkenankan keluar oleh dosen pengampu. Satu demi satu Mahasiswa sowan kepada dosen dan meninggalkan kelas.
Sejenak kemudian aku membuka story' WhatsApp. Beberapa story' teman-teman bermunculan dengan beragam kata-kata mulai dari kesedihan, kegembiraan dan hanya sebatas foto lucu dan lain sebagainya. Aku pun sempatkan membaca story' Iradatus Sakinah yang begitu panjang.
Hari ini adalah hari kedua bertemu dengan lelaki yang telah membantu ku kemarin dan hari ini, mulai dari mencarikan buku dan referensi serta membantu menyelamatkan KTM yang ketinggalan di perpustakaan. Hati terus tidak tenang meski berusaha untuk menghilangkan rasa yang tak pernah hadir dalam diriku. Walaupun itu aku tidak boleh sampai berlarut-larut dalam ketidak tenanganku ini. Aku harus kuliah dengan fokus tanpa ada hal-hal yang memeganggunya. 
Begitulah bunyi story' akupun hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Pada kenyataannya aku juga merasa kurang tenang, perempuan itu selalu hadir dalam pikiran ku, meskipun mencoba untuk menghilangkannya. 
Apabila kau adalah untukku, pertemukan lah dengan suasana halal bukan suasana haram.
Sepintas story' ku yang langsung dilihat oleh Ira. Ia pun langsung memberikan komentar, Amin..... Aku pun hanya memberikan Amin juga.

*****
Satu tahun sudah aku lalui, kini sudah semester enam akhir. Banyak hal yang telah aku lalui termasuk saling posting story' antara aku dan Ira tanpa ada komentar melalui akun WhatsApp. Hanya story' lah yang berbicara terkait hatiku dan Ira.
Tepat hari Senin, seperti biasanya kalau sudah selesai mengikuti kegiatan kuliah aku ke perpustakaan di sinilah aku bertemu kembali dengan Ira yang mempunyai tujuan yang sama. Awalnya aku tidak ingin bertemu dan selalu menjauhnya tapi tiba-tiba tanpa sengaja ada di sampingku yang sama-sama mencari buku.
"Kakak cari buku apa?" Tanya Ira. Detak jantung dag dig dug dengan suara disampingku. 
"Mencari buku dik, kamu cari apa?"
"Sama kak, tapi mulai tadi tidak ketemu terus."
"Oh kakak bantu cariin saja ya."
"Iya kak, terimakasih."
Mencari buku sesuai judul memang sulit untuk ditemukan. Kalau mencari yang hampir mirip dengan judulnya atau berhubungan tentu sangat mudah sekali. Tak lama kemudian, buku yang diinginkan Ira sudah ditemukan.
"Ini bukunya dik." Ira langsung menerima dengan ekspresi senangnya.
"Terimakasih ya, kak."
"Iya sama-sama." 
Kemudian aku langsung duduk di kursi tempat membaca para pengunjung perpustakaan. Ira pun juga duduk di samping ku. Jantungku terus berdetak keras. Ingin sekali mau bertanya tentang hal yang mungkin tidak pernah aku tanyakan kepada orang lain. Namun, Ira masih sibuk membaca buku, mungkin untuk tugas kampusnya.
"Kak, boleh minta bantuan nggak," tanya Ira.
Boleh, mau minta bantuan apa?
Ini loh kak, saya bingung dan terus mentok, ada tugas buat artikel. Cuman aku tidak tahu mau mulai dari mana.
"Oke, tapi tidak bisa sekarang iya. Soalnya kalau artikel harus punya referensi yang objektif."
"Iya kak tidak apa-apa."
"Oh iya, boleh tanya nggak."
"Mau tanya apa kak."
"Tapi ini mungkin berat untuk dijawab."
"Emang pertanyaan apa kak, kok berat."
"Beneran kamu mau jawab."
"Siap kak, apapun pertanyaan nya."
"Sejauh ini aku memang punya perasaan yang kurang baik namun apabila kamu membantu menjawab akan lebih menjadi baik."
"Maksudnya, kak."
"Sejak aku kenal sama kamu, aku!"
"Oh iya, kak. Aku paham dengan itu, mungkin hal itu adalah jawaban yang sangat mudah untuk aku jawab bukan berat lagi. Dari story' kakak itu aku sudah paham, mungkin pada beberapa bulan kemarin kakak tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Kakak tidak perlu khawatir terkait aku, karena pada kenyataannya kakak pasti paham dengan story' tadi malam itu sebagai ganti jawaban sekarang” 
"Baik aku ucapkan terima kasih. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemui keluarga kamu." Ucapku, senyum indah muncul dari Ira, perasaan yang terpendam sudah terungkap. Akhirnya Ira pamit pulang dan segera menjauh dariku. Ia tidak lupa untuk bersyukur atas harapan yang sangat ditunggu.
****
Satu Minggu kemudian aku langsung menemui keluarga Ira bersama keluargaku bermaksud untuk silaturahmi sekaligus melangsungkan keinginan untuk meminang Ira. Dengan khormat keluarganya termasuk kedua orangtuanya memasrahkan kepada Ira. Setelah Ira memberikan persetujuan akhirnya resmilah Ira menjadi calon pendamping hidup. Demi untuk menjauhi hal yang tidak inginkan keluarga kedua pihak saling setuju untuk segera melaksanakan ijab Qabul guna untuk menjadi pasangan yang sah. Sebab satu perguruan otomatis sering bertemu dan guna untuk saling membantu ketika menyelesaikan tugas kampus. Acara tunangan sudah selesai dan keluargaku pamit pulang.
Story' pagi, Iradatunnisa'
Assalamualaikum lelaki yang telah sah menjadi tunanganku, terimakasih kau telah hadir dengan keseriusanmu. Menemui keluargaku dengan niat yang baik. Tidak hanya sebatas kata-kata, namun sudah memberikan bukti kenyataan. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas semuanya.
Aku hanya bisa membaca tanpa memberikan komentar. Pagi ini aku sudah siap berangkat ke kampus, semua persiapan sudah siap. Artikel Ira sudah selesai dan tinggal di print. Aku langsung berangkat karena hari ini harus masuk pagi dan pulang sore.
"Assalamualaikum, maaf kak mau tanya artikel nya sudah selesai." Pesan WhatsApp masuk dari Ira.
"Waalaikum salam, Alhamdulillah sudah selesai dik. Tunggu saja di depan gedung fakultas pendidikan." Balasku.
"Baik kak, terimakasih." Balasnya. Akupun langsung berangkat tanpa kembali melihat semua informasi WhatsApp.
Satu jam kemudian aku sudah ada di kampus dan langsung pergi ke tempat printing, sesudah itu langsung ke depan gedung pendidikan. Perempuan berkerudung biru sudah menunggu dengan busana juba yang menarik. 
"Sudah lama menunggu iya, dik," sapaku dan Ira langsung menolehnya.
"Baru saja kak," sahutnya dengan senyuman indahnya. Kali ini bukan hanya sebatas teman akan tetapi sebagai calon pendamping hidup.
"Ini Artikel nya." 
"Iya kak, terimakasih iya.... Kakak memang luar biasa."
"Siap, ya sudah aku mau masuk dulu, kita ngobrol jika kita sudah sah."
"Siap kak." 
Aku pun masuk dan Ira juga masuk pada kelasnya. Penampilan Ira hari ini jauh beda dari sebelumnya. Cantik nan indah, bersih nan harum. Baju dan kerudungnya serasi. Semuanya serba tertutup entah karena ia tidak mau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat sebagian kulitnya.
Hari berganti hari aku pun mempersiapkan acara ijab qobul, semua yang dibutuhkan sudah disiapkan tinggal pelaksanaannya. Sore ini aku termenung dengan banyangan calon pendamping hidup yang terus datang secara berturut-turut entah karena aku mencintainya atau karena memang dia orangnya cantik. Ketika tersenyum selalu menyeret perhatian sehingga tidak mudah untuk hilang dari ingatan.
Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, sebentar lagi aku akan sah menjadi pasangan ikatan suci dengan Ira. Ira hanya memakai pakaian ala biasanya akan tetapi tidak menghilangkan kecantikan wajahnya. Aku duduk di antara puluhan keluarga menyaksikan aku mengucapkan lafadz yang sakral yaitu Qobiltu. Proses serah terima dimulai,  aku pun menjawab apa yang ditanyakan oleh Kiai yang memimpin proses ijab qobul ini. Setelah aku ucapkan lafadz sakral itu saksi disampingku langsung mengucapkan sah. Alhamdulillah, malam ini aku sudah sah menjadi pasangan suami istri bersama Iradatunnisa'. Tetesan air mata mengalir dari kelopak mata dari perempuan yang sedang bahagia atas apa yang diharapkan tercapai. Orang yang telah berbuat baik terhadap dirinya sudah menjadi miliknya. Pendidikan yang tinggal sebentar akan dikejar bersama-sama tanpa berhenti di tengah jalan. Meskipun sudah sah menjadi suami istri keduanya sepakat untuk tidak ada dalam satu ranjang sebelum berhasil meraih gelar sarjananya. Setelah berhasil meraihnya dan acara resepsi maka keduanya akan siap hidup bersama.
"Assalamualaikum istriku, kau adalah perempuan yang sudah aku halalkan."
"Waalaikum salam suamiku, terimakasih atas kehadiran dan kesudianmu."
"Kau hadir dengan membawa sejuta kebahagiaan, kita tidak perlu takut lagi saling memandang dan saling diskusi, apalagi hari-hari berikut ini kita sibuk dengan segala macam kegiatan kuliah."
"Iya istriku, Alhamdulillah kita sudah dalam ikatan suci," jawabannya Iwan dalam satu tatapan empat mata.
"Aku akan selalu setia untuk mu tanpa kepadaorang lain," janjinya Ira dalam tatapan mesranya.
****
Pagi sudah hadir dengan senyuman indah matahari. Pagi-pagi harus sibuk dengan segala hal. Mulai dari beres-beres kamar pribadi, memakai baju pemberian suami tercintanya, memasukkan lembaran tugas dan  laptop ke dalam ranselnya, siap-siapt ke kampus dan tidak lupa menghubungi orang yang sudah halal.
"Assalamualaikum, selamat pagi mas." Kata Ira dari sebrang sana.
"Waalaikum salam, bidaddariku." Jawabku berubah nama panggilan.
"Mas, sudah siap berangkat atau belum siap berangkat," tanya Ira dengan nada senangnya.
"Alhamdulillah, sudah siap berangkat. Bidaddariku sudah siap apa nggak."
"Bidadarimu sudah siap berangkat dan sudah siap menemani kamu."
"Oke lah kalau begitu, hati-hati di jalan, sampai ketemu di kampus."
"Siap, suamiku. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam," ucapku. Akupun langsung berangkat menuju kampus impian. 
Salah satu impian sudah didapatkan. Jodoh yang shalehah, dari pertemuan tidak sengaja hingga akhirnya jatuh cinta. Kini sudah sah menjadi keluarga meskipun belum bisa satu ranjang yang penting sudah halal.
Menghalalkan lebih baik, karena kalau satu perguruan akan selalu bertemu apalagi musim tugas yang berbelit-belit, pasti pertemuan akan terjadi.
Ira sudah menunggu di depan halaman parkir sepeda motor dengan memakai kerudung kuning serasi dengan baju jubanya. Aku masih mau memarkir sepeda motor.
 "Mas," sapanya sambil lalu sowan dan mencium tanganku. Betapa senangnya hatiku dengan istri yang shalehah ini.
"Sudah lama menunggu," tanyaku perhatian.
"Baru saja mas," jawabnya sambil tersenyum.
"Ow kok cepat banget," tanyaku.
"Emm..... Takut sampai duluan emas sampai ke sini, sehingga tidak langsung ketemu."
"Oh gitu, ya sudah mari kita ke kantin dulu sarapan."
"Tidak perlu ke kantin mas. Aku bawain nieh... Buat mas."
"Wah bagus nieh...."
"Boleh aku suapin mas."
"Boleh banget......"
Aku dan Ira langsung menuju ke belakang gedung kampus. Di sana ada tempat yang jarang dilintasi oleh mahasiswa-mahasiswi. Sesuap nasi masuk ke perutku atas suap istri tercinta. Senyuman manisnya mengiringi gerak tangannya. Bau harum bajunya membuat aku semakin betah duduk berdua sebebas mungkin.
 
Bagikan Artikel Ini;

0 komentar:

Post a Comment

Blog Archive